Penjaga Musim Semi

Posted: July 4, 2013 in Life

Ada seorang tua yang tinggal di hutan sebuah desa, di lereng bagian timur pegunungan Alpen, Austria. Orang tua itu sudah lama bekerja sebagai penjaga kebersihan. Tugasnya adalah membersihkan dedaunan dan kotoran pada mata air dan sungai yang mengalir di desa mereka. Pemerintah membayarnya untuk pekerjaan tersebut.

Dengan setia dan tanpa banyak bicara ia berpatroli di bukit-bukit; membuang daun, ranting, dan cabang-cabang pohon serta lumpur yang menghambat aliran air.

Lama-kelamaan desa itu menjadi tempat yang dikenal banyak orang dan menjadi salah satu tempat berlibur. Angsa yang anggun tampak berenang di aliran air bening pada tanah pertanian dengan irigasi alamiah. Berbagai usaha dan restoran semakin memperindah pemandangan dengan lampu-lampu aneka warna.

Tahun-tahun berlalu. Pada suatu sore pemerintah desa mengadakan rapat tahunan. Ketika mereka meninjau kembali pengeluaran selama ini, salah seorang memerhatikan adanya uang yang dibayarkan untuk seorang penjaga kebersihan di musim semi.

“Siapa orang itu? Mengapa kita terus membayarnya dari tahun ke tahun? Kita tidak pernah melihatnya, bukan? Kita tidak memerlukannya lagi,” katanya.
Maka mereka sepakat untuk tidak lagi mempekerjakan orang itu.

Selama beberapa minggu, tidak ada sesuatu yang berubah. Pada awal musim gugur dedaunan mulai berjatuhan ke dalam air. Demikian pula dengan ranting-ranting kecil, yang kemudian mulai menghambat aliran air.

Beberapa hari kemudian air sungai yang tadinya bening mulai tampak keruh. Minggu berikutnya tercium bau yang tidak enak dari air sungai. Angsa-angsa yang indah meninggalkan sungai, dan penyakit mulai melanda penduduk desa.

Pemerintah desa mengadakan rapat mendadak. Menyadari keputusan mereka yang salah beberapa waktu lalu, mereka kembali memanggil dan mempekerjakan si penjaga musim semi. Dalam waktu beberapa minggu air sungai bersih kembali seperti semula, dan segalanya berjalan lancar seperti sebelumnya.

Terkadang kita salah dalam menduga dan gegabah dalam bertindak. Ada orang-orang yang kita pandang tidak begitu penting kehadirannya dan apa yang mereka kerjakan. Mungkin juga kita pernah meremehkan seseorang dengan berkata, “Tanpa kamu pun saya bisa mengerjakan semuanya, segalanya akan tetap berjalan dengan baik.”

Melalui kisah di atas kita belajar untuk menghargai setiap orang dan apa yang sudah mereka lakukan. Masing-masing kita memiliki kelebihan, jadi jangan meremehkan orang. Keragaman keahlian akan semakin memperkaya sebuah karya. Karena itu, hargai dan anggap penting setiap orang!

===========

Bertindaklah dengan bijak; kadang-kadang kita baru menyadari pentingnya seseorang setelah ia pergi…

Posted from WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s